Biocomposites : Rumah Ramah Lingkungan Untuk Semua

Bahwasanya tidak semua yang digagas di Startup Center (d/h Pesantren Wirausaha) berhasil itu benar adanya, bahkan lebih banyak yang gagal dari yang berhasil. Tetapi satu berhasil dari sekian banyak yang gagal, itupun sudah cukup bagi kami. Yang lebih penting adalah tidak menyerah dengan kegagalan dan dapat mengambil pelajaran dari kegagalan-kegagalan tersebut. Demikianlah yang terjadi ketika kami menggagas bahan rumah murah sejak lima tahun lalu, mulai dari teknologi composites, teknologi sarang lebah (teknosal) sampai teknologi lock brick – semuanya belum berhasil. Maka kami berharap banyak pada exercise keempat kami dengan teknologi biocomposites.

Teknologi composites yang sudah kami kembangkan sejak lima tahun lalu dan sudah sampai membuat kandang kambing dan bahkan juga sebuah masjid dari gedebog, akhirnya belum bisa dikomersialkan karena terbentur salah satu bahan bakunya – yang berupa resin kimia dan mahal. Tetapi dari pengembangan ini, kami bisa menguasai teknologi pembuatan composites.

Teknologi sarang lebih (teknosal) yang kami gagas tiga tahun lalu berlanjut sampai pembuatan mesin nan canggih – yang saking canggihnya – perancang dan pembuatnya sendiri akhirnya menyerah di tengah jalan, meninggalkan mesin setengah jadi yang ngangkrak. Dari sini pelajarannya adalah – jangan membuat mesin yang terlalu canggih, yang belum proven teknologinya !

Kemudian teknologi lock brick yang kami gagas setahun lalu, bahannya melimpah – yaitu tanah biasa – sehingga seharusnya tidak mengalami masalah seperti di gagasan pertama. Mesinnya mestinya juga sederhana – sehingga seharusnya tidak mengalami kendala seperti gagasan kedua. Tetapi belum juga berhasil karena kami terlalu mengandalkan orang lain untuk pengembangan mesinnya.

Maka berangkat dari ketiga pelajaran sebelumnya tersebut di atas, kini kami sedang menggagas solusi yang keempat. Yang tidak membutuhkan bahan baku kimia yang mahal dan tidak baik bagi lingkungan, yang tidak membutuhkan mesin yang terlalu canggih, dan bahkan tidak memerlukan mesin atau alat khusus untuk membuatnya. Solusi yang keempat ini bernama biocomposites.

Berbeda dengan composites pada umumnya yang melibatkan bahan baku berbasis kimia – utamanya resin, biocomposites sepenuhnya menggunakan bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita. Bahan baku utamanya adalah cellulose – yaitu biomassa paling dominan yang ada di alam ini.

Cellulose ada di pepohonan, ada di dedaunan, ada di jerami, kulit gabah, batang jagung, daun nanas dan hampir semua sumber hijauan di sekitar kita mengandung cellulose tersebut. Tentu saja cellulose ini juga insyaAllah akan segera tersedia secara melimpah bersamaan dengan gerakan kita menanam pisang – yang sudah kita launch bebeberapa hari lalu.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengubah bahan-bahan yang ada di sekitar kita – yang selama ini cenderung kita anggap sebagai sampah tersebut – bisa menjadi bahan bangunan ? lagi-lagi Al-Qur’an-lah sumber inspirasi yang tidak pernah habis itu.

Perhatikan binatang yang namanya sampai menjadi nama suatu surat di Al-Qur’an yang surat tersebut disebut juga surat nikmat, binatang ini adalah lebah. Lebah selalu memiliki rumah, dan rumah lebah selalu indah. Tidak ada rumah lebah yang bocor meskipun didalamnya digunakan untuk menyimpan gudang cairan (madu). Tidak ada rumah lebah yang rusak karena hujan apalagi kebanjiran – meskipun dibuat di alam terbuka, dan di daerah dengan curah hujan yang tinggi sekalipun.

Sebaliknya manusia yang cerdas ini, tidak semuanya bisa memiliki rumah. Dan yang memiliki rumah terbaik sekalipun – masih sering terjadi kebocoran disana-sini, dan bahkan juga kebanjiran. Apa bedanya dengan lebah ?

Lebah diberi wahyu oleh Allah untuk membuat rumahnya (QS 16:68) dan itu dikuti para lebah apa adanya –exactly seperti yang diwahyukan. Sementara manusia diberi wahyu oleh Allah untuk menyelesaikan seluruh persoalannya (QS 16:89) – tentu juga termasuk persoalan rumahnya – tetapi manusia suka ngeyel, merasa ilmunya lebih tinggi dari petunjukNya !

Maka bila manusia mau mengikuti wahyu itu dengan sungguh-sungguh, insyaAllah manusia pasti bisa menyelesaikan seluruh persoalan hidupnya – termasuk dalam hal membuat rumah untuk semua orang ini. Pertanyaan berikutnya adalah ayat-ayat yang mana yang memberi petunjuk kita untuk membuat rumah ini ?

Salah satunya yang sangat jelas dan dekat dengan kita ya kembali ke rumah lebah tersebut – maka satu ayat setelah ayat yang bercerita tentang rumah lebah – Allah memberi isyarat “…Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir” (QS 16:69).

Di ayat lain, orang-orang yang berpikir ini disebut juga orang yang berakal – ulul albab – yaitu orang yang memahami tanda-tanda kebesaran Allah pada penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya siang dan malam, orang yang selalu mengingat Allah dan memikirkan penciptaan langit dan bumi baik ketika sedang berdiri, duduk maupun berbaring (QS 3 : 190-191).

Maka dengan menggabungkan pemikiran ciptaannNya di langit dan di bumi, serta memperhatikan rumah lebah tersebut di atas – insyaAllah ada petunjuk yang jelas tentang bahan rumah yang melimpah dan terjangkau di sekitar kita.

Mengapa lebah selalu berhasil membuat rumahnya ? dengan mengikuti wahyu – mereka tahu harus membuat rumah dari apa. Yaitu dari bahan yang selalu ada di sekitarnya berupa remah-remah pepohonan, dedaunan dlsb. – itulah yang disebut cellulose.

Lebah pekerja mengunyah-ngunyah remah-remah tersebut menjadi sekecil-kecilnya serat kemudian menyusunnya menjadi rumahnya yang indah. Agar menjadi kuat dan tidak bocor maka rumah tersebut di seal dengan apa yang disebut lilin lebah atau beeswax.

Bagaimana remah-remah yang dikunyah lebah menjadi bentuk serat terkecil tersebut bisa lengket dan kuat membentuk bangunan ? Itulah yang manusia harus pelajari. Dan pelajaran ini oleh Allah ditebarkan di alam semesta yang kita juga disuruh memikirkannya di ayat-ayat tersebut diatas. Lantas apa hubungannya antara rumah lebah, rumah kita dan alam semesta ?

solar system, www.MadrasahPertanian.com
Gravitasi di tata-surya kita

Perhatikan salah satu bagian kecil saja dari alam semesta – yaitu dari tata surya dimana kita tinggal ini. Apa yang membuat bulan mengitari bumi, bumi mengitari matahari dst – berjalan milyaran tahun dengan kokohnya tanpa bertabrakan ? Allah ciptakan perekat diantara benda-benda langit ini yang kita kenal sebagai gravitasi.

Sekarang perhatikan benda-benda yang sangat kecil di alam yang disebut atom, perhatikan susunan atom di molekul air misalnya. Lihat kemiripan susunan atom tersebut dengan tata surya kita – ini menunjukkan Dia yang mencipta tata surya , juga Dia yang menciptakan atom tersebut. Bila pengikat tatasurya itu bernama gravitasi, ’gravitasi’ yang mirip juga mengikat atom hydrogen dan oxygen pada molekul air.

water molecule, gravitasi antar atom air, www.MadrasahPertanian.com
‘Gravitasi’ antar atom air

Sekarang kembali kepada rumah lebah yang dibuat dari serat-serat yang sangat kecil yang berupa cellulose tersebut di atas. Rumus kimia cellulose itu adalah (C6H10O5)n; perhatikan daya tarik antara elektronnya Oxygen dan proton-nya Hydrogen – dalam ilmu kimia ini disebut Hydrogen Bond atau Hydroxyl Bond.

Dari sini pelajarannya adalah sebagaimana Allah ciptakan grafitasi yang ‘mengikat’ dengan sangat kuat matahari-bumi-bulan dlsb; Allah juga ciptakan pengikat-pengikat yang sangat kuat dalam skala mikro yang disebut Hydrogen Bond tersebut.

Lebah mengikat bangunan rumahnya dengan Hydrogen Bond ini – yang menyatukan cellulose menjadi bangunan rumahnya yang indah. Mengapa manusia repot-repot membuat semen yang mahal – kemudian mengirimkannya ke tempat-tempat yang jauh – yang membuatnya menjadi semakin mahal, bila disekitar kita selalu ada pengikat bangunan alami yang akan sangat kuat ‘mengikat’ rumah kita tersebut ?

Hydrogen Bond in Cellulose, www.MadrasahPertanian.com
Hydrogen bond dalam cellulose
Itulah yang secara umum sekarang disebut biocomposites itu. Intinya adalah serat-serat alami yang direkatkan juga dengan pengikat alami seperti Hydrogen Bond tersebut. Bila ini hasilnya dipandang kurang kuat untuk kebutuhan manusia, bisa saja ditambah resin yang juga alami untuk menambah kekuatannya. Resin alami ini yang masyarakat kita sudah lama mengenal antara lain adalah gondorukem/ getah damar/ getah pinus dlsb.

Bagaimana teknik detilnya di lapangan ? inilah yang sedang kami coba kembangkan bersama para santri di Madrasah Al-Filaha, berlomba adu cepat dalam penguasaan teknologi dimana teknologi yang sama kini bahkan sudah dipatenkan di Australia.

Hydrogen bond product, biocomposite - Australia, www.MadrasahPertanian.com
Teknologi hydrogen bond untuk bahan bangunan dan peralatan rumah tangga dari biocomposites – Australia.

Oleh: Muhaimin Iqbal

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*