Ke(Tidak) Fahaman Kolektif

Kemarin saya di kebun menerima tamu kehormatan, salah satu guru Al-Qur’an saya yang juga rektor di Institut Sains Al-Qur’an. Sambil berjalan-jalan di kebun, melihat tanam-tanaman dan mendiskusikannya satu per satu dari kaca mata Al-Qur’an – terasa betul betapa sempurna dan jelasnya petunjuk itu ketika dibahas oleh ahlinya. Hanya saja, kebanyakan orang awam seperti kita-kita sering tidak bisa menangkap pesan yang sesungguhnya dari ayat-ayatNya itu. Maka beliau mengajari saya makna kata tadabbur.

Makna dabbara seperti dalam ‘…dabbaral amra wa fiihi…’ adalah mengurus, merenungkan/memikirkan kesudahan atau akhir dari segala urusan. Akhir dari perjalanan makanan di dalam tubuh kita adalah keluar dari dubur. Ketika Allah hendak memusnahkan atau mengakhiri keberadaan orang kafir sampai akar-akarnya di surat Al –Anfaal – kalimat yang digunakan adalah wa yaqtho’a daabiral kaafirin.

Maka demikianlah bila kita bisa memahami tujuan akhir dari setiap urusan, insyaallah kita akan bisa bersikap dan bertindak sesuai prioritas dari tujuan tersebut.

Contohnya adalah ketika kita disuruh memperhatikan ciptaanNya di langit dan di bumi , apa sih tujuannya ? agar kita bisa faham bahwa itu adalah ciptaan Yang Maha Suci, ciptaan yang tidak sia-sia, ciptaanNya yang akan bisa menjadi jalan kita untuk terhindar dari api neraka (QS 3:191).

Lho kok terasa jauh benar hubungannya antara memikirkan ciptaanNya dengan terhindar dari api neraka ? ini akan lebih mudah dipahami bila dikaitkan langsung dengan contohnya yang ada di depan kita saat ini.

Sudah berbulan-bulan ini seluruh kekuatan di negeri ini belum terasa cukup untuk mengatasi musibah nasional asap yang telah mulai memakan korban yang berjatuhan. Pihak-pihak yang terkait belum nampak memiliki solusi jangka pendek – segera memadamkan api, maupun solusi jangka panjangnya – yaitu jangan lagi terulang.

Dalam kondisi seperti ini, pasti ada yang bertanggung jawab – yaitu mereka yang telah menimbulkan begitu banyak musibah bagi sekian banyak orang, atau bisa juga mereka yang membiarkannya sedangkan dia mestinya bisa berbuat untuk mencegahnya. Dampak ekonomi yang luar biasa hanyalah puncak gunung es dari dampak yang lebih besar dari terganggunya kesehatan masyarakat. Kalau saja siapapun yang terkait masalah ini berfikir tentang api neraka – pasti mereka tidak akan berbuat kerusakan seperti ini atau membiarkan ini terjadi.

Lebih jauh dari itu, masyarakat secara luas harus bisa memahami bahwa yang terbakar dan menimbulkan musibah asap tersebut sejatinya adalah bahan bakar yang sangat berharga, bukan semak belukar atau sampah yang sia-sia. Pemahaman …Rabbana maa kholakta haadza baathila…harus bisa menjadi pemahaman koletif dari masyarakt luas, agar tidak akan ada lagi yang membiarkan sumber energi (biomassa) yang begitu berharga terbakar sia-sia.

Saya membayangkan bila ada gerakan perbaikan pemahaman kolektif tentang segala sesuatu di sekitar kita ini, insyaAllah tidak akan ada lagi musibah seperti asap tersebut di atas yang belum juga tertangani hingga kini. Bahkan kemunculannya-pun dapat dicegah karena masyarakat luas bisa melihat semua benda-benda di sekitarnya, baik itu berupa semak belukar maupun tumpukan dedaunan kering dan berbagai bahan organik lainnya – semua bernilai tinggi, tidak ada yang sia-sia.

Dari sanalah kita akan bisa paham, betapa pentingnya kita menguasai inti atau akhir dari setiap persoalan. Karena hanya dengan itulah persoalan tersebut bisa diatasi sampai akar-akarnya. Rabbana maa khalakta haadza baathila subhaanaka faqinaa ‘adzabannaar. Amin.

Oleh: Muhaimin Iqbal

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*