Ketika Codot Menyambar

Dalam mendeteksi kematangan buah, manusia sering kalah dengan codot – maka kita jumpai buah-buah yang matang berjatuhan setelah sebagian dimakannya. Codot diberi Allah mata yang besar untuk bisa melihat dalam kegelapan malam, telinga yang fokus kedepan untuk bisa berfungsi seperti pendeteksi sonar, hidung yang panjang untuk mencium perubahan aroma buah yang matang dari jauh. Maka ketika codot menggunakan seluruh pemberian Allah ini, dia bisa mendahului manusia untuk memperoleh buah-buah terbaik yang matang di pohon. Sesungguhnya kita diberi lebih dari itu, hanya belum dioptimalkan saja penggunaannya.

Selain diberi telinga, mata dan penciuman – manusia diberi akal yang dengannya manusia seharusnya bisa mendengar, melihat dan mencium dan kemudian mencernanya dengan pemberian lain yang tidak diberikan ke codot yaitu dengan akalnya.

Lebih dari itu manusia diberi petunjuk – yang dengannya bahkan dia bisa ‘mendengar’ yang tidak bersuara, ‘melihat’ yang tidak terlihat dan ‘mencium’ yang tidak berbau – artinya manusia tidak hanya bisa mengolah yang bersifat natural atau secara fisik ada, dengan petunjukNya manusia bisa mencerna dan bahkan meyakini yang ghaib sekalipun.

Hanya saja karena kita lalai mensyukuri seluruh pemberian berupa akal dan petunjuk tersebut, kita belum menggunakannya secara optimal. Berapa kalipun kita membaca perintah untuk memperhatikan ketika buah masak di pohonnya, perintah itu kita biarkan berlalu – dan kita memilih untuk mengimpor saja buah dari negeri-negeri lain dengan mahalnya.

Akibat tidak digunakannya petunjuk, manusia yang paling cerdas dan paling maju-pun akalnya menjadi tidak berfungsi secara optimal. Negeri yang sangat maju dalam teknologi penanganan pasca panen buahnya seperti Amerika misalnya, hingga kini mereka masih ‘membuang’ sekitar 25% – 30% buahnya yang tidak dimakan. Separuh makanan ini dibuang di tangan konsumen karena busuk, separuh lagi hilang sejak dari panen sampai distribusi akhirnya – juga mayoritas karena busuk sehingga tidak layak jual.

Di negeri-negeri yang teknologi pasca panennya belum banyak dikembangkan, kehilangan panenan baik di tingkat produsen maupun konsumen tentu jauh lebih tinggi lagi prosentasenya.

Akibatnya sekitar 1 dari setiap 10 penduduk dunia hingga saat ini masih kelaparan, karena produksi makanan yang sebenarnya cukup – belum dikelola secara maksimal. Mengapa ilmu dan teknologi manusia modern-pun belum cukup untuk mengelola karunia Allah seperti buah-buahan tersebut ?

Ibarat Anda mengemudi mobil yang paling bagus dan paling cepat jalannya, apa yang terjadi ketika Anda tidak tahu arah kemana yang Anda tuju – maka mobil yang Anda tumpangi tersebut tidak akan membawa Anda sampai ke tujuan.

Demikianlah fusgsi petunjuk itu, memberi arah – agar kita bisa selamat sampai tujuan kita. Maka ketika kita disuruh untuk memperhatikan ciptaanNya di langit dan dibumi – antara lain seperti memperhatikan matangnya buah tersebut (QS 6:99) – serta merta setelah itu kita disuruh mensucikan namaNya dan berlindung dari api neraka (QS 3:190-191), karena inilah tujuan akhir kita yaitu selamat dari api neraka dan dimasukkan ke surgaNya.

Mengapa memperhatikan ciptaanNya ini terkait langsung dengan surga dan neraka ?, ya seperti contoh di atas – kalau kita bisa menyelamatkan buah dari kebusukan saja – dan juga hasil panenan lain seperti biji-bijian dlsb., insyaAllah kita sudah akan bisa mengatasi seluruhnya atau minimal sebagian kelaparan di muka bumi.

Sedangkan bila kita tidak melakukan apa-apa tentang kelaparan ini – yang per hari ini dugaan saya di Indonesia saja ada sekitar 20 juta-an orang yang lapar karena yang miskin naik dalam 6 bulan terakhir menjadi 28.59 juta – kita sudah dicap sebagai pendusta agama !

Nah sekarang kita bisa lihat, petunjuk yang satu ini (memikirkan ciptaanNya misalnya) saja – bila kita sungguh-sungguh laksanakan – sudah bisa menjadi salah satu jalan untuk melindungi kita dari api neraka.

Masalahnya adalah petunjuk untuk memperhatikan cipataanNya tersebut untuk bisa berefek sampai mencegah atau mengurangi kelaparan – tentu tidak cukup hanya dibaca dan dipahami saja, harus bener-bener diamalkan di lapangan. Itulah sebabnya di rangkian ayat tentang memikirkan ciptaanNya tersebut – juga dijelaskan langsung oleh Allah – bahwa yang dikabulkan doanya adalah do’a orang-orang yang beramal baik laki-laki maupun perempuan (QS 3:195).

Karena petunjuk Al-Qur’an itu juga bersifat detail lengkap dengan penjelasannya, petunjuk untuk memperhatikan kematangan buah-pun sebenarnya dilengkapi dengan berbagai petunjuk atau isyarat detil lainnya. Bila bisa kita tangkap dan jalankan ini semua – maka insyaAllah kita akan bisa mengungguli teknologi pasca panen yang paling unggul sekalipun yang ada di dunia saat ini.

Itulah karakter mukjizat itu, karena Al-Qur’an adalah mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi kita untuk umat akhir jaman ini – maka barang siapa yang bener-bener bisa menggunakannya – maka dialah yang akan mengungguli obsesi apapun yang ada pada jamannya.

Dimana petunjuk atau isyarat tentang teknologi pasca panen buah-buahan dan biji-bijian ini ada di Al-Qur’an ? yang berupa petunjuk jelas antara lain ada di surat Yusuf ayat 47. Yaitu ketika panen biji-bijian kita disuruh mempertahankan di bulir/tangkainya, dengan itu minimal biji-bijian akan tidak menurun kwalitasnya – untuk bisa ditanam kembali – setelah 7 tahun !

Teknologi pembibitan manusia yang paling modern sekarang – seperti ketika kami mengimpor bibit Alfaafa dari Amerika beberapa tahun lalu – karung bibit tersebut diberi peringatan bahwa umur bibit hanya 2 tahun. Artinya kalau kita mengelola biji-bijian seperti di surat Yusuf 47 tersebut saja, ini sudah lebih canggih dari teknologi pengelolaan biji-bijian yang paling modern yang ada sampai saat ini.

Secara ilmiah ini bisa dijelaskan bahwa bibit yang dipertahankan ditangkainya menunda terjadinya abscission – yaitu proses pelemahan/pembusukan melalui jalur makanan yang terjadi ketika buah/biji lepas dari tangkainya.

Kadang petunjuk itu begitu jelas dan mudah dipahami seperti surat Yusuf 47 tersebut, tetapi ada juga petunjuk yang hanya tersyirat – maka hanya Allahlah yang bisa menuntun kita untuk bisa menjalaninya sampai mengimplementasikannya di lapangan – itulah hikmah yang diberikan kepada para ulul albab yaitu orang-orang yang menguasi inti persoalan (QS 2:269 ; QS 3:190).

Saya berikan contoh misalnya ketika Allah bercerita tentang pemuda ashabul kahfi yang ditidurkan di gua selama 309 tahun (QS 18:25), maka ini adalah salah satu tanda-tanda kekuasaanNya yang bisa memberi petunjuk bagi orang yang dikehendakiNya untuk mendapatkan petunjuk tersebut (QS 18:17).

Bahwa dengan ijinNya, manusia bisa ditidurkan selama 309 tahun dan setelah itu bangun dalam kondisi tetap pemuda seperti hanya tidur sebentar. Maka pelajaran dari tidur panjang ini bisa menjadi petunjuk untuk berbagai aplikasi kehidupan lainnya.

Seperti pada teknologi pasca panen buah tersebut di atas, bayangkan bila Anda bisa ‘menidurkan’ buah yang masak di pohon. Maka buah yang dipetik dalam kondisi masak di pohon dan kemudian ‘ditidurkan’, dia akan tetap dalam kondisi itu sampai dia ‘dibangunkan’ dari tidurnya.

Apa yang terjadi ketika manusia tidur ? kebutuhan energinya sedikit, aktivitas pernafasannya rendah. Kurang lebih demikianlah insyaAllah kita akan bisa ‘menidurkan’ buah, menurunkan tingkat pernafasannya sampai titik terendah tetapi tidak berhenti – orang yang tidur-pun tidak berhenti bernafas karena kalau berhenti akan mati !

Bagaimana buah bisa tidur efektif tetapi tidak mati ? Itulah bagian dari amal manusia yang harus terus bekerja mencari solusinya dan memohon petunjukNya agar ini bisa dilakukan. Secara teoritis bila kita bisa ‘menidurkan’ buah dengan menurunkan tingkat pernafasannya sampai Extinction Point (EP) – titik kepunahan, maka buah bisa berumur sangat panjang seperti pemuda Ashabul kahfi tersebut !

Extinction Point tersebut adalah titik dimana buah tetap mengalami pernafasan aerobic tetapi dalam kondisi minimalnya, dibawah titik EP ini buah tidak lagi bernafas secara aerobic tetapi bernafas secara anaerobic – yang justru akan bergerak cepat kearah pembusukan/kematian.

Bayangkan sekarang bila berdasarkan petunjuk tersebut kita bisa mengembangkan teknologi peniduran buah yang pari purna, maka kita bisa makan durian segar tidak harus menunggu musim durian, bisa makan mangga segar matang di pohon diluar musim mangga – bahkan ribuan kilometer dari lokasi penanaman pohon tersebut , dlsb.

Peluang ekonominya akan luar biasa karena kita bisa mengirim buah kita kemana saja secara murah – karena tanpa harus peralatan pendingin yang tidak terputus – yang membuat harga buah mahal dan tidak terjangkau bagi sebagian orang. Dan yang paling penting dari itu semua – tidak ada buah yang mubadzir – karena semuanya akan kemakan manusia dalam kondisi terbaik dan tersehatnya.

Bila teknlogi semacam ini meluas dan diaplikasikan ke perbagai produk pertanian lainnya, maka kelaparan dimuka bumi bisa dicegah atau minimal diminimize. Ini tentu bukan cerita fiksi ilmiah, tetapi inspirasi teknologi berbasis ayat-ayat Al-Qur’an – yang perlu amal kita semua untuk bisa mewujudkannya.

Kami dan para santri di Madrasah Al-Filaha sudah ada bayangan bagaimana melakukannya, dan bahkan sedang melakukan serangkaian percobaan ke arah sana. Hanya saja sangat bisa jadi di antara pembaca tulisan ini ada yang lebih tahu dari kami tentang teknologi semacam ini, maka kami mengundang kontribusi Anda untuk ikut mengamalkan salah satu perintahnya ini. InsyaAllah.

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*