Membuat Delta

Delta (Δ-huruf besar atau δ-huruf kecil) adalah huruf keempat dalam aksara Yunani yang biasa digunakan untuk menyingkat kata diaphora yang berarti perbedaan atau perubahan. Simbol ini banyak sekali digunakan dalam rumus-rumus ilmiah untuk mewakili adanya selisih, perubahan atau perbedaan dari sesuatu dengan sesuatu lainnya. Dalam kehidupan ini keberadaan kita seharusnya juga untuk membuat Δ positif atau perbaikan-perbaikan yang mampu kita lakukan.

Masing-masing kita tentu punya pilihan di bidang apa kita ingin membuat perubahan itu. Bahkan Allah perintahkan langsung kepada kita untuk membuat perubahan itu :

“Yang demikian (siksaan) itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS 8:53)

Jadi yang akan membuat perubahan terhadap nikmat berupa apapun yang kita terima, itu adalah dimulai dari diri kita sendiri yang mau merubahnya – lalu Allah-pun merubahnya sesuai dengan yang kita lakukan.

Sekitar 12 tahun lalu saya terlibat dalam iring-iringan sejumlah tokoh masyarakat dan (calon) pejabat keliling Jawa Barat dan Banten, berangkat menyusuri pantai utara dan pulangnya lewat selatan. Saat itu saya masih menyaksikan ribuan atau bahkan puluhan ribu pohon-pohon sawit dan juga kelapa yang masih produktif.

Kemarin saya melakukan perjalanan yang nyaris sama – dan yang saya saksikan adalah adanya dua delta atau dua perubahan dari yang saya saksikan sebelumnya. Delta pertama adalah dalam kondisi kebun-kebun sawit yang ribuan atau puluhan ribu hektar tersebut – kini tidak lagi berproduksi secara ekonomis. Mungkin sudah lewat masa produktifnya, dan pohon-pohonnya sudah terlalu tinggi untuk dipetik buahnya.

Akibatnya para pemilik kebun tersebut – konon dahulunya dimiliki oleh masyarakat dengan pola inti plasma – lebih membiarkan saja kebun sawitnya menua tanpa bisa memetik hasilnya.

Delta kedua adalah dari sisi kepemilikan lahan, tokon masyarakat yang menemai saya keliling seolah hafal betul nama-nama pemilik kebun-kebun yang sangat luas tersebut kini. Ada dari kalangan pengusaha tentu saja, ada kalangan politikus yang kini sebagiannya di dalam sel, ada dari kalangan selebritis dan yang banyak adalah dari kalangan menengah atas Jakarta.

Mereka membuat delta di atas kertas – yaitu merubah kepemilikan lahan dari masyarakt – menjadi milik-milik mereka, tentu dengan membelinya secara legal. Tetapi di lapangan para pemilik ini rupanya belum membuat delta apa-apa. Lahan-lahan dibeli untuk dimiliki dan bukan dibeli untuk dimakmurkan.

Daerah tersebut menjadi area perburuan tanah orang-orang Jakarta yang memiliki uang karena di sekitar daerah itulah telah dibangun Kawasan Ekonomi Khusus, rencana jalan tol baru dan bahkan rencana lapangan terbang baru.

Delta yang dibuat oleh pemerintah dengan berbagai rencana tersebut, tentu memberi peluang delta besar bagi masyarakat yang bisa mengambil peluang untuk menikmatinya. Siapa yang paling banyak ? ya orang-orang yang beruang dan mampu membeli lahan-lahan tersebut.

Bagaimana dengan masyarakat lainnya ? Dalam hitungan saya mayoritas masyarakat belum akan memperoleh manfaatnya sampai bertahun-tahun kedepan, ketika rencana-rencana tersebut bener-bener terimplementasi dan lapangan kerja baru bermunculan di daerah itu.

Sementara itu yang terjadi sekarang dan sampai beberapa tahun kedepan adalah hilangnya lapangan kerja dari puluhan ribu hektar kebun sawit yang sekarang tidak lagi berproduksi ini. Mayoritas masyarakat hidup dengan perubahan atau delta negative yang nyata yang terjadi saat ini – karena mereka kehilangan lapangan pekerjaannya secara perlahan tetapi pasti.

Tentu baik bagi pemerintah untuk membuat perencanaan jauh kedepan – seperti yang mereka rencanakan untuk daerah tersebut. Tetapi pada saat yang bersamaan juga harus diantisipasi masalah-masalah yang timbul dari rencana jangka panjang semacam ini.

Tanpa disadari oleh banyak pihak, setiap rencana pengembangan suatu daerah – tanah-tanah di daerah pengembangan tersebut menjadi ajang spekulasi untuk dikuasai oleh mereka-mereka yang memiliki uang. Saat itulah hamparan tanah luas menjadi terbengkalai, karena hanya ditunggu naik harganya saja.

Saya menyaksikan kondisi seperti ini bukan hanya di Banten dan Jawa Barat tersebut, tetapi juga di daerah-daerah rencana pengembangan di Jawa Tengah dan Jawa Timur – sangat mungkin terjadi juga di wilayah lain Indonesia. Banyak sekali tanah-tanah yang dahulu produktif untuk sumber pangan, kini dianggurkan oleh pemiliknya karena hanya untuk dinikmati kenaikan harganya.

Lantas delta apa yang mestinya bisa kita lakukan agar rencana-rencana jangka panjang pemerintah tersebut tidak justru berdampat buruk bagi ekonomi masyarakat setempat saat ini ?

Saya ambilkan contoh kasus kondisi Banten tersebut di atas. Mungkin masih perlu waktu satu atau dua pemerintahan lagi sebelum Kawasan Ekonomi Khusus, jalan tol dan lapangan terbang baru benar-benar menggerakkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang besar di daerah tersebut.

Saat ini yang sudah ada adalah puluhan ribu kebun sawit tua yang tidak lagi produktif. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan resources yang begitu besar ini menjadi penggerak ekonomi kawasan tersebut sekarang juga – sambil menunggu program-program pemerintah yang terkait benar-benar terimplementasi.

Siapa-pun pemilik lahan-lahan tersebut kini, pasti sebagian besarnya mereka juga pingin kebunnya lebih produktif ketimbang sekedar spekulasi tanah. Lantas apa yang bisa dilakukan dengan kebun sawit tua – yang untuk menebangnyapun membutuhkan pekerjaan yang luar biasa berat ?

Solusinya kurang lebih begini, lagi-lagi kebun sawit tersebut meskipun tidak berbuah – tetapi kan mengandung biomassa yang sangat besar. Maka industri biomassa inilah yang mestinya bisa dilakukan saat ini juga.

Pohon sawit beserta daun-taunnya memang tidak kuat untuk bangunan langsung, tetapi ketika pohon-pohon beserta daunnya tersebut dilumatkan menjadi bubur cellulose. Maka bubur cellulose ini bisa setidaknya berpeluang menjadi 5 bahan yang berguna yaitu Fuel (briket bahan bakar), Fiber (untuk kertas dlsb), Feedstock (untuk bahan biocomposites), Fodder ( dengan fermentasi jadi pakan ternak) dan Fertilizer (pupuk).

Tinggal para insinyur bioproses mengoptimalkan mana yang paling tinggi delta nilainya antara nilai barang yang dihasilkan dengan biaya untuk mengolah pohon-pohon sawit yang sudah tua tersebut. Katakanlah delta nilainya sangat kecil sekalipun atau bahkan nol – bisa jadi upaya ini masih berharga untuk dilakukan. Mengapa ?

Setelah pohon-pohon sawit yang tidak produktif tersebut diambil dan diproses, puluhan ribu hektar lahan tersebut kembali bisa dijadikan kebun-kebun produktif. Bila ditanami pisang atau buah-buah lainnya bisa menghentikan impor aneka buah yang kini cenderung melonjak. Bila ditanami kedelai akan mengurangi impor kedelai – yang berarti juga mengurangi konsumsi kedelai GMO. Lahan-lahan yang semula tidak lagi produktif ini, bisa menjadi sumber kekuatan baru dalam membangun ketahanan pangan di daerah maupun nasional.

Yang akan lebih dasyat adalah efek lapangan kerja yang akan ditimbulkannya sekarang dan yang akan datang. Mulai dari menebang pohon tua, mengolahnya, mengganti tanaman baru, mengolah hasilnya sampai memperdagangkan hasilnya – semuanya bisa dimulai dalam waktu dekat – asal semua pihak yang berkepentingan mau membuat perubahan atau delta tersebut. Kalau yang ditanam kedelai, dalam beberapa bulan sudah akan panen. Bila yang ditanam pisang , satu tahun sudah panen dst.

Kita bisa melihat sekarang, bahwa tugas pemerintah adalah membuat rencana-rencana besar dan mengimplementasikannya. Mereka akan akan membuat delta besar dalam jangka panjang. Tetapi masyarakat jangan menjadi korban delta negative jangka pendeknya, masyarakat juga harus bisa menikmati delta positif saat ini juga – dengan membuat perubahan-perubahan yang bisa dilakukannya. InsyaAllah kita bisa.

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*