Pertanian Dalam Al-Qur’an (Bagian III)

Salah satu bukti kebenaran Al-Qur’an itu adalah keakuratan data yang diungkapkannya. Meskipun diturunkan di Makkah dan Madinah yang minim tanaman, Al-Qur’an begitu detil mengungkap tempat-tempat lain yang sangat baik untuk bertani. Ada yang disebut secara spesifik untuk tanaman tertentu misalnya Zaitun, dia tumbuh baik di Gunung Thursaina (Sinai) – dan secara umum juga di bukit-bukit yang tidak terhalang. Ada yang disebutkan secara umum yaitu disebutkan kriteria-kriterianya saja, bisa negeri mana saja yang memenuhi kriterianya. Dan salah satu yang sebenarnya memenuhi syarat untuk negeri yang sangat baik untuk bertani itu adalah negeri kita – Indonesia !

Adalah ironi besar bila negeri ini sampai impor bahan-bahan makanannya, karena semua kriteria tanah yang baik untuk bertani atau bercocok tanam itu ada di negeri ini.

Di antara kriteria tersebut adalah tanah dataran tinggi dan tempat gunung berapi. Tanah di dataran tinggi memberikan akses terhadap sinar matahari terbaik, dan tanah di daerah gunung berapi kaya akan hara yang dibutuhkan untuk tumbuh baiknya tanaman.

Kondisi ini digambarkan dengan sangat indah antara lain melalui ayat berikut : “Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (QS 2:265)

Banyak ayat-ayat lain yang konvergen dengan ayat ini, selain gunung Thursaina dan tempat tumbuhnya zaitun terbaik seperti di awal tulisan ini, juga ketika Allah hendak menyampaikan suatu tempat yang baik untuk tumbuhnya biji-bijian, tanaman dan kebun yang rindang. Rangkaian ayat-ayat tersebut dapat kita baca di surat An-Naba’ berikut :

“Dan gunung sebagai pasak…..Dan Kami menjadikan pelita yang sangat terang (matahari), dan Kami turunkan dari awan, air hujan yang tercurah dengan hebatnya. Untuk kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tanam-tanaman, dan kebun-kebun yang rindang.” (QS 78 : 7 & 13-16).

Seperti yang sudah saya bahas dalam tulisan sebelumnya, air dan sinar matahari adalah dua dari tiga komponen utama proses photosynthesis – komponen ketiga adalah karbondioksida yang disediakan melimpah oleh Allah di alam dan terus bertambah banyak seiring dengan kemajuan aktifitas manusia.

Sinar matahari yang bagi kita melimpah ada kapan saja, tidak demikian dengan di negeri-negeri empat musim apalagi yang mendekati daerah kutub. Sinar matahari bisa menjadi sesuatu yang dirindukan selama berbulan-bulan bagi mereka.

Demikian pula dengan air, yang bagi kita seolah ada melimpah nyaris kapan saja – tidak bagi belahan bumi lain seperti di negeri-negeri kering yang hujannya sangat terbatas, air adalah sesuatu yang langka bagi mereka.

Jadi negeri mana yang memiliki kombinasi lengkap dataran tinggi, gunung berapi, sinar matahari yang sangat kuat sepanjang tahun dan air yang melimpah ? negeri kita termasuk satu dari sangat sedikit negeri yang memenuhi kriteria ini.

Data dari Al-Qur’an ini juga dapat dibuktikan secara ilmiah dengan mengumpulkan data kelembaban tanah di seluruh dunia kemudian membandingkannya. Hasilnya akan seperti yang dikumpulkan oleh USDA (United States Department of Agriculture) berikut.

Moisture_regime
Peta Kelembaban Tanah Dunia

Daerah yang diberi warna hijau terang sampai biru adalah tanah-tanah terbaik untuk bertani, dan seluruh wilayah negeri ini berada di antara zone hijau terang dan biru.

Jadi apa masalahnya sekarang ? mengapa negeri yang diberi kemurahan sinar matahari dan hujan ini struggling untuk bisa sekedar swasembada karbohidrat dan lemak saja ? sedangkan swasembada protein, vitamin dan mineral masih jauh ?

Setidaknya ada dua masalah yang sangat jelas dari kacamata Al-Qur’an. Pertama air yang turun sudah sesuai ukurannya – disebutkan dalam banyak ayat di Al-Qur’an antara lain di QS 15:19-21 dan 23:18-19 – tidak kita kelola secara maksimal.

Ketika musim hujan, kita anggap supply air itu berlebih, sehingga air yang amat bersih (QS 25:48) itu kita buang-buang menjadi banjir atau bahkan dengan bangganya kita mengarahkannya ke laut langsung sebelum menyentuh bumi dengan teknologi yang disebut modifikasi cuaca.

Kemudian setelah itu, beberapa bulan saja sesudahnya kita sudah kelabakan karena air bersih tidak lagi tersedia di sekitar kita, jangankan untuk bercocok tanam – untuk air minum-pun tidak semua orang bisa memperolehnya dengan mudah.

Maka pengelolaan air hujan ini seharusnya menjadi tugas top priority bagi negeri yang dikaruniai hujan yang sangat banyak seperti negeri ini. Tugas ini sebagiannya tentu menjadi tugas pemerintah untuk bisa membuat waduk-waduk penampungan air hujan yang memadai beserta saluran-saluran irigasinya.

Tetapi juga menjadi tugas masyarakat secara keseluruhan untuk melakukan semampu yang bisa dilakukannya. Seperti menanam pohon banyak-banyak, membuat sumur-sumur resapan dan hal sederhana yang bisa dilakukan di tanah pertanian tanpa perlu banyak biaya adalah dengan membuat tanah pertanian tertutup mulsa. Yaitu daun-daun kering menutupi lahan sehingga menahan air hujan dari penguapan langsung, mengurangi erosi dan memperbaiki resapan tanah.

Selain pengelolaan air, yang jelas juga perlu kita perbaiki adalah pilihan terhadap pohon-pohon yang kita tanam. Sedapat mungkin setiap menanam pohon kita pilih pohon-pohon yang menghasilkan buah yang dimakan. Mengapa demikian ?

Negeri yang baik dan negeri orang-orang yang berpaling di Al-Qur’an dibedakan dari pohon-pohon yang ada di negeri itu. Negeri yang baik, pohon-pohonnya menghasilkan buah yang dimakan (QS 34:15), sedangkan negeri orang-orang yang berpaling pohon-pohonnya menghasilkan buah yang tidak bisa dimakan (QS 34:16). Tinggal melihat sekarang, pohon apa yang ada di sekitar kita, di sepanjang jalan yang kita lalui, di kebun-kebun luas kita dst. Dari sana insyaAllah kita akan mudah untuk tahu, apakah negeri ini sudah menuju kebaikan atau masih berpaling (dari petunjukNya) !

Maka dengan fokus pada dua hal tersebut di atas, yaitu memperbaiki pengelolaan air hujan dan memperbaiki tanaman/pohon yang kita tanam menjadi semaksimal mungkin buahnya bisa dimakan – insyaAllah kita akan bisa swasembada pangan yang sesungguhnya. Bukan hanya swasembada karbohidrat dan lemak, tetapi juga swasembada protein, vitamin dan mineral.

Pendidikan, pelatihan, mentoring dan coaching untuk bertani secara Islami dengan menggunakan petunjuk-petunjukNya di Al-Qur’an, sunnah-sunnah nabiNya dan penggalian-penggalian ilmu yang sudah dilakukan oleh para ulama selama berabad-abad sebelumnya , insyaAllah kini telah tersedia di Madrasah Al-Filaha yang brosur lengkapnya dapat di download dari link ini.

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*