Pertanian Dalam Al-Qur’an (Bagian IV)

Kalaulah ada sebuah bacaan yang bisa mengguncang gunung dan membuat bumi terbelah, itulah Al-Qur’an (QS 13:31). Pekerjaan yang amat sangat besar, yang tidak dimungkinkan dengan cara lain – maka dengan Al-Qur’an menjadi mungkin. Inspirasi dari ayat ini bisa menjadi dasar bagi kita untuk melakukan sesuatu yang sangat besar yang selama 70 tahun kemerdekaan, kita belum berhasil mekakukannya dengan baik. Yaitu tercukupinya tiga kebutuhan dasar berupa makanan , energi dan air (Food, Energy and Water – FEW).

Tiga kebutuhan dasar yang ringkasnya saya sebut saja FEW tersebut, dalam Al-Qur’an semuanya terkait dengan satu hal yaitu tanaman. Maka sesungguhnya kita bisa mengatasi tiga hal ini sekaligus dengan merangkuh satu dayung yaitu menanam !

Untuk bercocok tanam dalam memenuhi kebutuhan pangan, ini sudah jelas dan sudah saya tulis dalam sejumlah tulisan sebelumnya. Tetapi bagaimana kita bisa bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan energi ?

Setidaknya saya menemukan tiga ayat di Al-Qur’an yang saling menguatkan bahwa sumber energi yang renewable itu datangnya memang dari tanaman. Bahkan energi yang renewable itu adalah multipurpose, selain bisa digunakan untuk energi dia juga bisa dimakan.

Ini kita temukan misalnya di surat An-Nur ayat 35 yang menyebutkan api yang dinyalakan dari minyak zaitun, sedangkan di surat Al-Mu’minun ayat 20 – disebutkan minyak zaitun yang sama digunakan untuk penyedap makanan.

Ayat-ayat lain yang menyebutkan api atau energi itu dari pohon yang hijau ada di surat Yaasiin ayat 80 dan yang senada dengan ini di surat Al-Waaqi’ah ayat 71-72.

Baik di surat An-Nuur, surat Yaasiin maupun surat Al-Waaqi’ah semuanya menggunakan istilah pohon (syajara). Tidak digunakan istilah lain misalnya tanaman semusim (zar’a).

Ini memudahkan kita dalam mencari energi terbarukan yang berasal dari tanaman. Tidak perlu terjadi dilemma seperti yang terjadi di dunia barat misalnya, ketika mereka bingung menggunakan jagung dan kedelainya – apakah digunakan untuk bahan makan atau bahan bakar.

Bagi kita biji-bijian jelas untuk makananan, sedangkan energi alternative terbarukan berasal dari tanaman pohon – bisa apa saja dari hasil pohon tersebut, batangnya, buahnya dlsb.

Selain di surat An-Nuur yang menyebutkan tanaman spesifik sebagi sumber api atau energi adalah zaitun, surat Yaasiin maupun surat Al-Waaqi’ah tidak menyebutkan nama pohonnya secara spesifik – artinya ini memberi keluasan kita untuk mencari pohon-pohon sumber energi masa depan –yang ada di sekitar kita.

Di Indonesia misalnya, saya melihat salah satu satu pohon yang berpotensi besar untuk menjadi cadangan bahan bakar alternatif adalah pohon sukun (Artocarpus communis) karena memiliki karakter yang mirip zaitun yaitu selain menghasilkan energi, juga bisa menjadi bahan makanan. Karakter bahan bakar yang multipurpose ini mengandung hikmah besar bagi para petani yang menanamnya. Untuk sukun misalnya dia menjadi cadangan untuk dua hal sekaligus, kalau problem kita pangan, maka hasil panenannya untuk makanan. Kalau yang lebih kita butuhkan energi, maka hasil panenannya bisa diproses untuk menjadi energi. Sukun mengandung pati yang sangat tinggi sekitar 89 %, pati ini bisa dengan mudah dan bahkan teknologinya sederhana untuk bisa diolah menjadi bioethanol – pengganti bensin, kalau nanti bensin menjadi terlalu mahal atau bahkan stoknya menghilang di pasar.

Selain sukun tentu sangat banyak pohon-pohon lain yang bisa dielaborasi sebagai sumber makanan atau kegunaan lainnya tetapi pada saat yang bersamaan juga menjadi sumber bahan bakar. Dengan pemilihan tanaman yang baik, dengan pola tanam yang juga baik megikuti petunjuk-petnjukNya insyaAllah kita tidak akan kesulitan bahan bakar dalam jangka panjang.

Sekarang bagaimana dengan unsur satu lagi dari tiga unsur kebutuhan pokok yaitu air ? bukankan bertani akan membutuhkan air yang banyak sehingga bersaing dengan kebutuhan untuk minum manusia dan ternak ? Justru disinilah letak pentingnya kita bertani menggunakan petunjuk-petunjukNya yang detil.

Dalam memberi petunjuk untuk bertani ke kita, Allah kadang menggunakan istilah zar’a atau tanaman semusim dan kadang menggunakan istilah syajara untuk pohon atau tanaman menahun. Kemudian Allah juga menekankan bahwa segala tumbuhan tersebut sudah dibuat sesuai ukuran :

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (QS 15:19)

Demikian pula airnya diturunkan sesuai ukuran :

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS 23:18)

Nah sekarang segala sesuatu mulai dari tanamannya sesuai ukuran, airnya juga sesuai ukuran – lha kok manusia modern ini sering kehabisan air untuk minum, kekurangan air untuk tanamannya dan kadang kelebihan air sampai menjadi musibah banjir ? Pasti manusianya yang salah urus karena tidak mengikuti petunjukNya.

Dengan menanam tanaman-tanaman semusim dan pohon-pohon yang proporsional, air yang dibutuhkan tanaman semusim ( padi, jagung dlsb) akan tersedia cukup dan tidak perlu bersaing dengan kebutuhan manusia.

Dengan menanam pohon-pohon secara proporsional pula, air yang turun dari langit juga akan menetap di bumi untuk dikeluarkan lagi pada saatnya dibutuhkan – melalui akar-akar tanaman yang menyerapnya untuk memproses makanan kita (photosynthesis) , melalui mata air – mata air untuk sumber minuman kita, dan kemudian juga mengalir ke sungai-sungai untuk kebutuhan tanaman semusim kita.

Melalui proses transpirasi, air dari daun pepohonan yang rindang juga akan kembali ke udara menyejukkan bumi, membentuk awan dan akhirnya turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan – semuanya sesuai takarannya !

Maka sesungguhnya segala kebutuhan kita dalam bentuk makanan, energi dan air itu tersedia cukup – tetapi kita juga diuji dengan perintah untuk memakmurkan bumi (QS 11:61) – untuk melihat siapakah yang terbaik amalnya ( QS 67:2). Kita dilarang mengganggu keseimbangan yang ada di bumi ini, dan lebih jauh juga ditugaskan untuk menjaga keseimbangannya. ( QS 55 : 8-9). Kita sanggupi penugasan-penugasanNya ini, Agar Dia memberi kita bimbinganNya , ilmu dan juga sarannya. InsyaAllah.

Oleh: Muhaimin Iqbal (GeraiDinar.com)

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*