Solusi Energi : Sekali Merangkuh Dayung

Bencana asap semakin mencemaskan karena mulai menimbulkan korban jiwa. Saya tetap belum melihat ada solusi yang konkrit yang efektif yang diambil oleh para penguasa negeri ini, maka mewakili rakyat yang pernah merasakan betapa menyesakkannya asap ini – sekali lagi saya ingin membantu pemikirannya. Yaitu melihat semua yang terbakar tersebut dari kaca mata yang lain, sebagai sumber energi yang ter (di)sia-siakan. Begitu kita bisa melihat semua biomassa berupa semak belukar, dahan, ranting dan daun kering adalah sumber energi yang sangat kita butuhkan – maka kita akan berbuat memanfaatkannya sebelum menjadi musibah.

Biomassa adalah sumber energi yang amat sangat berharga sehingga tidak pada tempatnya dibiarkan terbakar begitu saja malah menjadi musibah. Bahkan energi dari biomassa ini lebih menarik ketimbang energi berbahan bakar fosil seperti minyak, batu bara dan gas seperti yang saat ini paling banyak kita gunakan.

IIPC Biomass, www.MadrasahPertanian.com
CO2 Emission Comparison (Source : IIPC)

Hasil kajian yang dilakukan oleh badan dunia IIPC (Intergovernmental Panel on Climate Change) menunjukkan bahwa emisi carbon yang dikeluarkan biomass rata-rata adalah kurang dari separuh yang dikeluarkan oleh gas dan hanya sekitar ¼ dari yang dikeluarkan oleh batu bara.

Artinya penggunaan energi biomassa jauh lebih bersih ketimbang energi lain yang selama ini kita gunakan. Itulah sebabnya diantara negeri-negeri maju ada yang sampai mensubsidi power plant mereka yang mau menggunakan biomassa ini sebagai bahan bakar.

Lha biomassa itu melimpah di sekitar kita, dan kita biarkan terbakar begitu saja. Bukan hanya menjadi musibah seperti yang terjadi di sebagian Sumatra, Kalimantan dan berbagai tempat lain di negeri ini – tetapi tanpa kita sadari juga kita abaikan sumber energi biomassa itu di sekitar kita sendiri.

Di tempat tinggal saya misalnya, tukang sampah tidak mau mengambil sampah biomassa dari pepohonan dan sejenisnya. Alasannya di tempat pembuangan sampah ditolak oleh PEMDA yang mengelolanya, akibatnya biomassa menumpuk.

Ketika saya coba berhitung dengan nilai biomassa ini, hasilnya ternyata mencengangkan. Di kota yang berpenduduk sekitar 1.8 juta ini saja, asumsi saya mengeluarkan sampah biomassa sekitar 1 kg /hari/kapita atau 1,800 ton perhari.

Bila kita bisa mengolahnya menjadi pellet untuk bahan bakar power plant dengan efisiensi 20 % saja, ini akan menghasilkan energi sekitar 2.5 kWh. Dengan harga listrik tariff termurah sekarang Rp 1,352/kWh , maka energi tersebut senilai Rp 3.38 milyar per hari. Ini kira-kira cukup untuk menggratiskan kebutuhan energi bagi separuh warga kota ini – khususnya yang ekonominya separuh di bawah !

Tentu hasilnya akan meningkat, bila tingkat efisiensi konversi energi biomassanya bisa ditingkatkan. Bukan hanya biomassa bisa menjadi subsidi energi yang luar biasa besarnya, energi berbasis biomassa juga jauh lebih bersih.

Dengan tingkat efisiensi yang hanya 20 % saja, berdasarkan perbandingan emisi CO2 yang dikeluarkan oleh IIPC dalam grafik tersebut diatas, kota ini bisa menurunkan emisi CO2-nya sampai 1,475 ton per hari (bila dari energi batu bara di power plant pindah ke biomassa) atau minimal menurunkan emisi CO2 sampai 650 ton per hari bila separuh masyarakat yang biasa menggunakan gas pindah ke biomassa.

Apakah ini teori yang muluk untuk mengajak masyarakat menggunakan energi biomassa ? Mengajak penyedia listrik mengganti sebagian bahan bakarnya dengan biomassa mungkin memang tidak mudah – meskipun realitasnya kita sudah ekspor pellet biomassa ke Korea Selatan – ya di sana digunakan untuk bahan bakar power plant mereka !

Mengajak masyarakat dibawah mungkin akan lebih mudah. Alasannya adalah masyarakat kita – termasuk saya sendiri – sebenarnya agak traumatis dengan bahan bakar gas seperti yang kita gunakan selama ini. Bila tidak selalu dirawat – kapan Anda terakhir merawat kompor gas Anda, khususnya pipa-pipanya ? – maka bahan bakar gas termasuk yang beresiko tinggi untuk masyarakat awam seperti kita-kita.

Kalau ada bahan bakar yang lebih aman dan juga tetap praktis, orang seperti saya dan mungkin Anda akan memilih menggunakan bahan bakar yang lebih aman tersebut. Jadi bayangkan bila di setiap kota kecil atau bahkan per kecamatan ada unit pengolah limbah biomassa menjadi pellet bahan bakar misalnya, maka ini akan menyelesaikan banyak persoalan. Persoalan sampah, kebutuhan energi sampai pencemaran udara.

Lebih dari itu dalam skala luas, musibah kebakaran dan asap seperti yang sudah berlangsung beberapa bulan di sebagian wilayah negeri ini insyaAllah bisa dicegah bila otoritas yang terkait segera melihat biomassa yang terbakar tersebut sesungguhnya adalah sumber energi yang hingga saat ini masih disia-siakan – Rabbana maa kholakta haadza baathila .

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*